Yogyawarta | Jendela Yogyakarta

Thursday, 15 August 2019

7 masjid tertua dan bersejarah di Yogyakarta

Masjid adalah tempat beribadah orang-orang Islam, ia dirindukan oleh segenap kaum muslimin, sebagai tempat mengadu kepada rabbnya, di sinilah orang-orang beriman mendekatkan diri kepada Tuhannya. Di Indonesia ada ratusan ribu masjid yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. termasuk di Yogyakarta, ratusan bahkan ribuan Masjid di kota wisata ini, ada Masjid-masjid baru, ada juga masjid-masjid lama yang memiliki sejarah tersendiri.

Pada kesempatan kali ini Yogyawarta akan membahas tujuh masjid bersejarah dan tertua di Yogyakarta.

Berikut adalah daftar masjid bersejarah di Yogyakarta:

1. Masjid Gedhe Kauman (1773 M)


credit gambar: kemenag.go.id


Masjid Gedhe Kauman dibangun oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I bersama dengan Kyai Faqih Ibrahim Diponingrat (penguasa pertama istana) dan Kyai Wiryokusumo sebagai arsitek. Masjid ini dibangun pada Minggu Gaji, 29 Mei 1773 M atau 6 Robi'ul pada akhir 1187 H.
Kompleks masjid Kauman Gedhe dikelilingi oleh tembok tinggi. Gerbang utama kompleks berada di sisi timur dengan pembangunan semar tinandu. Arsitektur bangunan utama berbentuk seperti atap persegi tertutup dengan tiga atap. Untuk masuk ada pintu utama di sisi timur dan utara. Di sisi barat ada mimbar tiga lantai yang terbuat dari kayu, mihrab (tempat imam mengarahkan penyembahan) dan sebuah bangunan berbentuk sangkar yang disebut maxura. Pada zamannya (untuk alasan keamanan), Sultan melakukan ibadah di tempat ini. Teras masjid berupa piramida terbuka persegi panjang.

Lantai aula utama menjadi lebih tinggi dari lobi masjid dan lantai teras itu sendiri lebih tinggi dari halaman masjid. Di teras timur laut-selatan ada sebuah kolam kecil. Pada zaman kuno, kolam ini untuk membasuh kaki orang yang ingin memasuki masjid.

Di depan masjid ada halaman yang ditanami pohon tertentu. Di sebelah utara dan selatan halaman (timur laut dan tenggara bangunan masjid besar) ada sebuah bangunan yang cukup tinggi yang disebut Pagongan. Pagongan di timur laut masjid disebut Pagongan Ler (Pagongan Utara) dan di tenggara disebut Pagongan Kidul (Pagongan Selatan). Selama upacara Sekaten, Pagongan Ler digunakan untuk menempatkan gamelan sekati Kangjeng Kyai (KK) Naga Wilaga dan Pagongan Kidul untuk gamelan sekati KK Guntur Madu.

2. Masjid Gedhe Mataram (1640 M)

credit gambar: antarafoto.com

Masjid Gedhe Mataram adalah masjid tertua di Yogyakarta. Terletak di selatan daerah pasar Kotagede saat ini, tepatnya di kota Jagalan, Banguntapan, Bantul. Pintu utama masjid berbeda dengan masjid pada umumnya, karena pintunya menyerupai tempat ibadah bagi umat Hindu atau Budha (sering disebut shutter / warna). Bangunan itu sendiri terlihat seperti joglo dengan tegakan jati. Masjid Kotagede dibangun pada zaman Kesultanan Mataram pada tahun 1640 oleh Sutan Agung bersama dengan masyarakat setempat. Memasuki halaman masjid adalah pohon ara tua yang usianya mencapai ratusan tahun. Di sekitar pohon beringin ada parit yang mengelilingi masjid yang dulu digunakan sebagai tempat wudhu.

Masjid ini memiliki prasasti yang menunjukkan bahwa masjid ini dibangun dalam 2 tahap. Tahap pertama dibangun pada masa Sultan Agung dalam bentuk inti kecil masjid yang disebut langgar. Tahap kedua dilakukan untuk merenovasi masjid yang dipegang oleh Sunan Paku Buwono X. Perbedaan porsi masjid yang dibangun oleh Sultan Agung dan Paku Buwono X ada di pilarnya. Bagian yang dibangun oleh Sultan Agung memiliki tiang kayu, sedangkan Paku Buwono memiliki tiang besi. Masjid ini masih hidup sampai sekarang. Warga masih menggunakannya sebagai tempat kegiatan keagamaan.

Ciri khas budaya Hindu dan Budha masih jelas mempengaruhi konstruksi masjid ini sebagai lengkungan berbentuk paduraksa. Bangunan utama masjid adalah bangunan berbentuk piramida Jawa, ciri-cirinya dapat dilihat pada atap berbentuk limas dan ruangan terbagi menjadi dua, yaitu teras dan teras. Keistimewaan lain dari masjid ini adalah di luar, yang memiliki drum tua. Bedug dulunya adalah hadiah dari Nyai Pringgit yang masih terdengar sebagai penanda waktu sholat. Mimbar kayu berukir indah di dalamnya dapat ditemukan di dalam masjid. Mimbar ini adalah hadiah dari Sultan Palembang kepada Sultan Agung, tetapi mimbar asli tidak lagi digunakan. Sementara di halaman masjid akan ada perbedaan pada dinding bangunan masjid. Dinding kiri terdiri dari batu bata yang lebih besar dengan warna merah yang intens, dan ada batu seperti marmer yang tertulis di permukaan tulisan Jawa. Sementara dinding lainnya memiliki bata warna yang cukup terang, lebih kecil dan halus. Dinding di sebelah kiri masjid dibangun oleh Sultan Agung, tembok lain yang direnovasi oleh Paku Buwono X.

3. Masjid Nurul Huda Dongkelan (Masjid Pathok Negara Bagian Selatan)

Masjid Nurul Huda Dongkelan terletak di Dusun Kauman, Dusun Dongkelan, Desa Tirtonirmolo, Kec. Buruk, Kab. Bantul, DI. Yogyakarta.

hu-sein.blogspot.com

Rute ke masjid mungkin yang paling sulit, dari Jl Bugisan ke selatan (menuju pabrik Madukismo) hingga mencapai persimpangan Ringroad. Dari persimpangan Ringroad, belok ke barat untuk mengikuti Ringroad sampai Anda mencapai pintu desa Senggotan, sebelum jembatan. Kemudian jalan dari desa Senggotan ke utara. Lebih baik untuk bertanya kepada penduduk mengapa masjid terletak di pusat kota melalui lorong-lorong kota.




4. Masjid Ad-Darojat Babadan (Masjid Pathok Negara bagian Timur)

tribunnews.com

Masjid Pathok di bagian timur negara itu terletak di Desa Babadan, Kec. Banguntapan, Kab. Bantul, DI Yogyakarta.
Rute menuju ke masjid ini adalah ke JEC (Jogja Expo Center). Dari Jalan Raya Janti di depan JEC ada pohon ara yang menghadap pertigaan Nah, salah satu jalan di pertigaan itu disebut Jl Pathok Negara. Ikuti saja Jalan Pathok Negara sampai di tempat masjid.
Masjid ini memiliki sejarah yang cukup unik. Selama Perang Dunia II, masjid ini digusur oleh penjajah Jepang. Karena orang-orang Babadan akan menjadi pangkalan udara dan gudang senjata. Akibatnya, masjid dan penduduk kota Babadan pindah ke kota Babadan Baru yang terletak di Kec. Depok, Kab. Sleman (Gambar di bawah).

Selama konstruksi awal tahun 1964, bentuk masjid itu masih semi permanen. Baru pada tahun 1988 teras tengah dibangun kembali dengan dana pemerintah dan organisasi non-pemerintah. Meski bentuk masjid telah berubah, namun karakteristiknya sebagai Masjid Pathok Negara tetap dipertahankan, seperti masjid mustoko yang masih terpelihara dengan baik. Hanya pada tahun 1992 bangunan utama utama dihancurkan lagi dan disarankan agar sesuai dengan bentuk aslinya, yaitu, joglo yang berasal dari kayu jati (Gambar di atas).

5. Masjid Sulthoni Plosokuning (Masjid Pathok Negara Bagian Utara)

bujangmasjid.blogspot.com
Masjid Negara Pathok di utara. Alamatnya di kota Minomartani, Kec. Ngaglik, Kab. Sleman, DI Yogyakarta.

Untuk menuju ke masjid ini, umumnya lebih mudah untuk mengikuti Jalan Kaliurang sampai km 9. Ambil arah timur dengan pertigaan besar sebelum lampu merah. Ikuti jalan sampai Anda menemukan persimpangan dengan empat arah. Belok kanan / selatan untuk menuju Minomartani melalui Jl. Plosokuning Raya. Ikuti jalan sampai Anda tiba di Masjid Sulthoni Plosokuning.
Arsitektur masjid Sulthoni masih tetap seperti ketika masjid dibangun. Masjid Pathok Negoro di Plososkuning didirikan setelah pembangunan Masjid Agung Yogyakarta, sehingga bentuk masjid meniru Masjid Agung sebagai salah satu upaya legitimasi Masjid Kesultanan Yogyakarta. Persamaan ini juga kompatibel dengan beberapa komponen, seperti mihrob, kentongan dan drum. Dari lima masjid yang ada, hanya Masjid Pathok Negoro di Plosokuning yang masih mempertahankan bentuk aslinya.
Di masjid Sulthoni, Bukhorenan, tradisi Istana Sultan, sering dilakukan untuk mempelajari ajaran dan bimbingan Nabi dengan membaca dan memahami hadits di Sahih Bukhari.

6. Masjid Jami ’An Nur Mlangi (Masjid Negara Barat Barat)

source: bujangmasjid.blogspot.com
Masjid Negara Pathok terletak di barat. Alamatnya di Desa Mlangi, Kec. Lima, Kab. Sleman, DI Yogyakarta.
Untuk sampai di sana, lewati Jalan Magelang ke km 4 sampai Anda mencapai persimpangan di Jalan Jambon Kemudian, ikuti Jalan Jambon tiba di jalan lingkar pasar Jambon. Ikuti jalan lingkar selatan (kiri) hingga Anda mencapai Rumah Sakit Queen Latifa. Tepat di seberang barat Ringroad, dari rumah sakit, ada jalan menuju desa wisata religius Mlangi. Di pusat kota adalah Masjid Pathok Negara.
Masjid ini adalah masjid negara terbesar di Pathok. Ini karena bangunan telah direnovasi pada dua tingkat dengan mengorbankan arsitektur asli. Pada awalnya, bentuk Masjid Pathok Negara di Mlangi mirip dengan Plosokuning.
Di sisi barat, utara dan timur laut ada kuburan. Mereka yang dimakamkan adalah keluarga kerajaan. Pangeran Bei dimakamkan di sisi barat. Di utara masjid adalah makam Pangeran Sedo Kedaton, yaitu, Patih Danurejan selama Hamengkubuwono II. Di sisi timur adalah makam keluarga Pangeran. Prabuningrat


3. Masjid Taqwa Wonokromo (Masjid Pathok Negara Bagian Selatan)

bantulkab.go.id
Masjid Taqwa Wonokromo. Alamatnya di Desa Wonokromo, Kec. Pleret, Kab. Bantul, Yogyakarta. Lokasi masjid ini berada di dekat pasar Jejeran, yang pada malam hari terkenal dengan sate klathaknya, yaitu di Jalan Imogiri Timur km 10. Sebelum jembatan ada pintu di sisi kiri jalan.
Masjid Pathok State cukup jauh dari keramaian kota, tepat di sebelah pertempuran antara sungai Opak dan Oyo. Masjid Taqwa terletak di sebidang 5000m2. Luas masjid ini ketika dibangun adalah 420 m2 dan sejauh ini telah dikembangkan sehingga luasnya 750m2. Bagian serambi mencakup 250 m2, dan ruang perpustakaan adalah 90 m2, dan teras adalah 4000 m2.

Arsitektur masjid ini masih mempertahankan keasliannya. Mirip dengan masjid Sulthoni di Plosokuning. Hanya saja ukuran masjidnya lebih besar. Pada awalnya, bangunan utama masjid Taqwa berbentuk seperti kerucut (kerucut) dengan kuwali mustaka yang terbuat dari tanah liat. Bangunan teras limusin berukuran sedang dengan pintu di bagian depan. Semua bahan bangunan terbuat dari bambu, atapnya terbuat dari welit dan dindingnya terbuat dari gedhek.

0 comments

advertise here